Kuch Kuch Hota Hai

Share Postingan ini

ISLAMABAD- “Barangsiapa menguasai bahasa suatu kaum, maka akan selamat dari tipu dayanya” benar adanya hikmah ungkapan tersebut. Terlebih bagi siapa yang hidup di negara orang lain, baik untuk belajar, bekerja atau sekedar liburan. Jika melihat di masa sekarang dimana ilmu pengetahuan, peradaban semakin maju dan berkembang dinilai kebutuhan untuk menguasai berbagai bahasa merupakan kebutuhan yang penting. Salah satu manfaat terbaik dari menguasai bahasa asing adalah dapat membuka seluruh dunia baru sekaligus memperkaya pengetahuan.

Bendera negara Pakistan, negara penutur bahasa Urdu

Dalam hal ini, masyarakat Indonesia yang tinggal di Pakistan dengan berbagai kepentingan untuk hidup bersosialisasi akan menemukan berbagai kendala terkait penguasaan bahasa lokal, Urdu. Bagi mereka yang memiliki keinginan untuk menguasai bahasa urdu disertai dengan usaha, baik dengan mengikuti kursus ataupun secara otodidak mampu meminimalisir kendala tersebut. Namun akan berbeda ceritanya bagi mereka yang cuma memiliki keinginan tanpa usaha,  minimal sekedar untuk belanja kebutuhan dapur harus menguasai bahasa isyarat yang cuma difahami oleh dirinya tanpa difahami oleh masyarakat lokal. Dibalik semua fenomena itu adakah yang tau sejarah bahasa urdu??

Kata ‘Urdu’ berasal dari bahasa Turki yaitu ‘Ordu’ yang berarti ‘Army Camp’ atau ‘Lashkar’.  Asal muasal bahasa ini sulit untuk dilacak. Berbagai ahli sejarah berbeda pendapat terkait asal muasal lahirnya bahasa urdu.  Mohammad Hussain Azad, seorang sarjana India terkemuka, menyatakan bahwa Brij Bhasha yang berasal dari  Barat Hindi merupakan bahasa ibu Urdu. Kemudian invasi pasukan umat islam ke Delhi memberikan banyak unsur bahasa Persia, yang mengakibatkan terciptanya bahasa hybrid baru yang disebut Urdu.

Sebaliknya, Mehmud Sherani  menyatakan bahwa bahasa Urdu merupakan hasil  interaksi  tentara muslim dengan  penduduk setempat yang beragama  hindu setelah penaklukan Punjab dan Sindh oleh Mehmud dari Ghazni.

Namun pendapat ilmuan yang paling kuat menyatakan bahwa  evolusi dan perkembangan bahasa Urdu merupakan campuran bahasa serapan Arab, Persia, Pashto, Turki, Hindi dan bahasa lokal India. Muslim memerintah India selama kurang lebih 1.000 tahun yang mana asal tentara Muslim berasal dari bangsa dan bahasa yang berbeda. Interaksi antara tentara  dengan penduduk setempat menyebabkan perkembangan bahasa baru yang  saling dipahami oleh semua. bahasa baru ini disebut sebagai ‘Urdu’ .

Sejarah menunjukan ikatan yang kuat antara Hindi dan urdu dari zaman india kuno sampai sekarang. Keduanya sangat mirip dalam tata bahasa dan kosa kata dasar. Dalam bentuk lisan, mereka saling dimengerti,  bahkan mereka pada dasarnya identik. Salah satu perbedaan yang paling menonjol antara keduanya adalah dalam sistem penulisan, Urdu menggunakan bentuk modifikasi tata cara penulisan Persia-Arab, sementara Hindi menggunakan Devanagari. Urdu dan Hindi berbagi basis Indo-Arya, tapi Urdu dikaitkan dengan gaya naskah Nastaliq kaligrafi Persia dan dibaca dari kanan ke kiri, sedangkan Hindi menyerupai bahasa Sansekerta dan dibaca dari kiri ke kanan.

Hindi dan Urdu mulai terpisah secara signifikan antara satu dan lainnya sekitar abad ke-16. Selama ini, India berada di bawah kekuasaan Islam. Dengan pemerintahan Islam, pusat budaya dan politik dari anak benua India bergeser ke Delhi. Islam tersebar di India dan daerah tetangga, dengan begitu Urdu dengan bahasa resapannya dari Persia dan Arab menyebar seiring meluasnya daerah kekuasaan umat muslim. Penyebaran Islam dan Urdu melonjak selama Kekaisaran Mughal yang memerintah atas dataran Hindustan selama kurang lebih 300 tahun (sekitar tahun 1526-1858).

 

 (Ditulis oleh Ikmal Thoha. Mahasiswa BS Islamic Studies IIUI. Alumni th 2011)

Loading

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *