Mendidik Calon Pemimpin dan Memimpin

Share Postingan ini

Mendidik calon-calon pengasuh anak dan anak didik, pemimpin sektor-sektor kewanitaan dan kekeluargaan bersama membina masyarakat terdidik dengan baik.

Perguruan tinggi tempat/milliu mendidik calon-calon pemimpin, memimpin calon-calon pendidik. Birokrat memenej kehidupan/milliu agar terpimpin dan terdidik. Seharusnya usahawan, polisi, tentara dan lain-lain bekerjasama. Ta’awun!football jerseys
Nike Air Max 270 white
nike air max womens
Jerseys for Sale
nike air jordan sneakers
nike air jordan shoes
nike air jordan 1
best couples sex toys
adidas promo code
nike air max for sale

Nasib Perguruan Tinggi/Universitas dinegara-negara berkembang kurang beruntung, hanya dimanfaatkan oleh pihak non akademisi untuk meningkatkan keuntungan mengurangi kerugian/kost. Maka buru-buru banyak PT menaikkan tarif nya langsung atau tidak langsung. PERGURUAN TINGGI PESANTREN suatu keunikan tersendiri. Konon dianggap disana hanya mendidik pak turut atau produsen generasi tertutup. Belum tahu dia! Sami’naa wa atha’naa, tidak asal pake’, taat total, dengar total alias ibarat mata sudah buta ,tertutup lagi.

JUGA PESANTREN/PENDIDIKAN PUTRI UNIK!
Seperti Universitas, sektor sektor-sektornya terasa kurang berfungsi. Fasilitasnya relatif cukup, meskipun fasilitas itupun bukan jaminan kemajuan keberhasilan. Wanita melahirkan calon-calon pendidik dan pemimpin, bahkan calon-calon praktisi/pelaku profesi lain sementara wanita itu sendiri calon-calon pendidik dirinya sendiri.

Guru pejuang tidak pernah rela, mau dan merasa dijajah. Guru uang sudah terjajah sebelum dijajah, kalah sebelum kalah, mati sebelum mati, mengubur diri sebelum dikubur. Amit-amit!

Manusia itu guru, pemimpin dan manager pada skala/scope yang berbeda-beda, maka mampu JADI GURU itu MUTLAQ!
Why? Karena kebutuhan tak henti. Menjadi Guru al-Qur’an, umpamanya, Siapa yang bertanggungjawab mengajar ummat buta baca al-Qur’an dipelosok-pelosok desa, ditempat-tempat yang minus keislamannya, minus ekonominya dengan sukarela tanpa imbalan/gaji?
Dosa siapa meninggalkan Fardlu ‘ain, Fardlu Kiffayah? Kapan dan dimana?

Juga IPTEK
Bisa berhasilkah, berjalankah tangungjawab pengembangannya hanya dengan Demontrasi? Dengan makalah, seminar, pidato? dan seterusnya?
Siapa yang mau? Tinggikan semangatnya? Semangat how to teach, how to manage, how to lead; Semangat dengan bekal to live segala zaman, tapi tetap siap, to do sampai to WORK LILLAH! LILLAH!

MENGAJAR SEBAGAI ASPEK PEMBINAAN Jiwa, watak kepribadian, akhlaq keilmuan disekolah, dimasyarakat dan medan yang lain. Seperti:
1. Kedewasaan, pendewasaan diri (kematangan) dalam:
• Berfikir ilmiah, tambah bahan, keyakinan meningkat wawasan keilmuan bertambah luas, berani menghukumi sesuatu dengan kebenaran tanpa dipengaruhi, diprovokasi, dibisiki; bercermin diri dengan cermin kejujuran.
• Kematangan fisik sesuai umur dengan kontrol kesehatan bila diperlukan disamping terus.
• Kontrol kekuatan dan keteguhan: istiqomah.
• Toleransi, rasa sosial berupa tolong menolong kebersamaan tanpa melupakan kebebasan berijtihad pribadi demi kemajuan.
• Inovasi, improvisasi
2. Keadilan, kejujuran sebagai mental wajib guru, pemimpin sehingga objektifitas mengajak kesabaran berdasar berasas yang benar.
3. Kesopanan dalam arti yang luas seperti beretika proseduril, tidak grusa-grusu menonjol-nonjolkan diri, merasa benar dan pintar sendiri.
4. Kecakapan menempatkan urutan prioritas dan skala/strata dari paling penting, lebih penting, penting, kurang penting hingga tidak penting, menjadikan guru sebagai panutan masyarakat dan bangsa.

Banyaknya masalah praktis, pengaruh ekonomi, miliu, sistem dan lain-lain, pada etika sekarang, menguji pengamatan psikologis pemimpin, guru dan manager. Bukan masanya lagi dan amat tidak pada tempatnya mudah-mudah, terburu-buru memakai madzhab dan aliran: POKOKNYAISME..!

Sekali-kali ia harus dipaksa berfikir “ka’annaka tamuutu ghodan”, seakan-akan engkau mati esok hari; dengan perhitungan pertimbangan meninggalkan harapan ketenangan, idealisme dan amal/jariah; bemanfaat dan berkembang.

Vitalisasi generasi trampil ditampilkan dengan jujur, menghindari kesalahan pandangan dan sikap lama atau terdahulu (kolot): generasinya guru, ya’ni kekhawatiran (suu’uddhon) terhadap para penerus; sebelum dibekali tempaan mental kuat dan meyakinkan dalam menghadapi kehidupan. Kasihan generasi kan?!

Pandai meletakkan dengan tepat “fastabiqul khoiroot”, dan “ta’aawanuu ‘alal birri dan seterusnya”, “falyatanaafasil mutanaafisuun”. Tidak terjerembab dalam perpecahan untuk hubungan kedalam/internal. Paling tepat prinsip kedua, bertolong-tolongan atau ketiga, berpacu dalam kualitas dan kwantitas amal.

TOLONG MENOLONG DALAM KEBAJIKAN antara sesama ummat dan meningkatkan segala unsur-unsur ketaqwaan, bukan sebaliknya. Tolong menolong dilakukan dengan external ummat manusia termasuk non muslim. Berlomba-lomba terkadang sampai tingkatan persaingan kotor antara sesama ummat. Agak aneh rasanya !

Semua laku langkah guru/pemimpin dengan dasar keyakinan kebenaran ijtihadnya. Banyak yang kuat dipersalahkan orang tapi tidak beranjak dari ijtihadnya. “JELAS BERBEDA ORANG YANG LANGSUNG MELAKUKAN, MENGGELUTI, MENDALAMI SUATU PEKERJAAN DENGAN YANG TIDAK”.

“ISTIQOMAH MERUPAKAN JAMINAN lindungan KEAMANAN DAN KESEJAHTERAAN DAN KEBAHAGIAAN MURNI”. “BESAR HATI BUKAN BESAR KEPALA ATAU BESAR MULUT”. KAPITAL MENTAL percaya diri SELALU DIGEROGOTI pihak musuh”.

PARA ORANG TUA :
Jangan rela mewariskan anak-anak/generasi tanpa cita-cita! Generasi yang hilang atau keropos, kopong! Berdosa!

ANAK ANAK :
Jangan jadikan ORTU (Orang tua) Generasi gembos, invalid atau ompong, patah harapan! Berdosa!

Mengajar (guru) bukan kewajiban saja, tapi kebutuhan kudrat manusia atas alam semesta, posisinya sangat tinggi. Maka perbekalan (equipment) nya disiapkan, bukan sekedar kepuasan fisik, kerakusan, bebas tanpa kendali moral. Apabila tidak terkendali jadilah ia makhluq kejam, bengis melebihi makhluq lain pula. Sayangnya binatang-binatang modern lebih menguasai daripada yang manusia beradab. Terjadilah pelanggaran-pelanggaran vertikal dan horizontal.. Congkak memang!

“very good is not good” bagi kaum tak suka..waspadalah! waspadalah!
nggak aneh kan?

PEMBINAAN GURU saja? NO! PEMBINAAN DOSEN, REKTOR demikian pula…Itu (menuntut) ilmu juga, kan? Juga Kyai-kyai, ulama’-ulama’! Why not? Perlu!

Orang bijak berkata :
“Amat mudah bagi banyak manusia untuk menasehati, dan paling sulit bagi mereka tahu diri”.

SUMBER-SUMBER CACADNYA GURU, PEMIMPIN dan lain-lain. Contohnya Ingin terkenal, minta dihormati, takut dibenci, berusaha agar disenangi ingin muridnya banyak, luas pengaruhnya, lancar hasil (materi)nya. Benar atau tidaknya, hati mereka yang menjawab. Memuakkan memang bila perilaku para pembina ummat, baik guru maupun pemimpin tampak sekali arah tujuannya materi, UUD (Ujung Ujungnya Duit). Entah berapa persennya. Kasihan umat yang beratus-ratus kali tertipu, terkecoh; terkecoh lagi oleh insan-insan panutan.

(Dari makalah KH Hasan Abdullah Sahal,yg disampaikan pada penataran Guru Baru)
edisi revisi 10 Juni 2007

Loading

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *