Prof.Dr.Husnan Bey Fannanie ”Jaga Marwah Kita, Jaga Marwah Gontor”

Share Postingan ini

ISLAMABAD – Pada tanggal 4/10 bertepatan dengan hari selasa IKPM Pakistan mengadakan acara welcome party. Acara tersebut sedikit berbeda karena menggabungkan welcome party dengan farewell secara bersamaan, ditambah lagi dengan kehadiran Prof. Dr. Husnan Bey Fannanie yang turut memberikan pesan dan nasehat membuat acara IKPM kali ini tidak kalah eksklusif. Tahun ini IKPM Pakistan mendatangkan 4 mahasiswa/mahasiswi baru yaitu: Royhan Ridho Surya Dani jurusan BS hubungan internasional, Hanifa Hama Jurusan BS Arabic, Dyah Ayu Rejekeningtas jurusan MS islamic studies, dan Widya Dewi Lestari jurusan MS islamic studies. Sedangkan yang akan bertolak ke tanah air yaitu Nizar al katiri.

Penyanyian Lagu Hymne Oh Pondokku, dan Indonesia Raya

Acara yang mengambil tempat di taman KBRI ini diawali dengan perkenalan dari masing-masing mahasiswa/mahasiswi baru dilanjut pesan dan kesan dari mereka yang akan bertolak ke tanah air dan ditutup pesan dan nasehat dari Prof. Dr. Husnan Bey Fannanie. Nizar Al-Katiri, beliau sedikit berbagi cerita tentang pengalaman  studinya ketika berada di Yaman dan  di pakistan yang baru saja di selesaikannya, tak lupa beliau juga berpesan kepada seluruh warga IKPM Pakistan salah satunya untuk bersungguh-sungguh selama menuntut ilmu agar nantinya tidak mengkhianati usaha orang tua.

Suasana Berlangsungnya Acara

Tanpa menunggu lama dan sekaligus menyingkat waktu acara berlanjut ke sambutan hangat oleh Prof. Dr. Husnan Bey Fannanie yang dikenal juga sebagai salah keturunan trimurti, walaupun acara yang terkesan cukup larut malam bahkan menambah antusiasme warga IKPM Pakistan dikarenakan nasehat-nasehat serta wejangan-wejangan yang sangat konstruktif. Beliau banyak mengutip kisah-kisah kepondok modernan gontor yang menjadi sebab terbesar dalam kemerdekaan indonesia sampai saat ini. ”Gontor itu berdiri tahun 1926 sedangkan indonesia merdeka pada tahun 1945, kalau bukan karena gontor, Indonesia takkan merdeka” ungkap beliau yang pernah menjabat sebagai duta besar Azerbaijan itu.

Tidak sampai situ, beliau juga bercerita sambil bernostalgia tentang masa-masa studinya selama di pakistan seperti; pernah mengenyam pendidikan di NUML Islamabad selama dua tahun dalam bidang bahasa inggris, lalu melanjutkan studinya di Punjab University selama 4 tahun dalam bidang islamic studies. ”kalau dihitung-hitung saya hampir 6 tahun tidak pulang ke indonesia” tambah beliau. Sambutan yang begitu hangat itu ditutup dengan harapan yang besar kepada seluruh warga IKPM di seluruh dunia terlebih warga IKPM Pakistan. Beliau berharap agar setiap individu merasa bahwasannya dia adalah duta bangsa, menjaga marwah (harga diri), dan yang terbesar “apakah yang akan kita buat, lakukan dan persembahkan dalam rangka menyambut satu abad gontor”. Beliau yang akrab disapa prof itu menyebutkan salah satu maksud kedatangannya di pakistan adalah menjalin MOU (Momerandum of Understanding) dari Al Azhar University kepada Punjab University, International Islamic University of Islamabad dan Ali Jinnah University dalam bidang akademik.

Perfotoan Bersama

Persiapan acara yang setidaknya memakan waktu selama seminggu seperti; meminta kesedian pembicara, menyiapkan tempat, serta sosialisasi. Semua tak luput dari semangat dan antusias warga IKPM Pakistan. Acara ditutup dengan perfotoan dan ramah tamah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *